Ketika Pria Memutuskan Untuk Menikah

By  |  0 Comments

One of my ‘friend’ told me something, ”akhirnya, gw udah bisa memilih..gw udah ngelamar seseorang..mungkin dia bukan cinta gw, tapi akan menjadi cinta gw sebentar lagi..”. Well guys, teman saya ini udah pacaran 9 tahun dengan pacarnya..imagine! Sempat saya berpikir, kenapa ya butuh waktu yang begitu lama untuk memutuskan menikah dengan seseorang? Bahkan sampai harus menunggu selama 9 tahun dulu, baru yakin kalo he or she is the one for us, we’re getting married until the end of time?.  Tapi saya salut dengan pacarnya yang sangat sabar untuk menunggu satu kalimat itu. Sedangkan saya, baru 9 bulan pacaran saja mungkin sudah ‘ngebet’ dinikahi  (ya ampun!!!).

But anyway, one happy thing that one decision has made buat teman saya. Bahagia sekali rasanya melihat teman saya ini punya kemajuan berarti setelah melewati ’satu masa labil’ bagi dia..godaan Nope!. Saya rasa perjalanan yang harus dilewati untuk sampai ke tempat yang dituju pasti banyak ketemu sesuatu yang baru. Entah nanya alamat ke tukang ojek dulu, trus nyasar, putar balik, kelelahan, lalu sejenak mampir ke warung untuk sekedar melepas lelah sambil membeli sebotol minuman dingin, merasa fresh lagi, kemudian melanjutkan perjalanan,  dan fokus, and then….nyampe deh!, persis seperti sebuah hubungan.

Saya sangat yakin, bahwa selama 9 tahun pacaran yang dia lewati adalah waktu yang tidak sebentar, dan sangat berarti buat dia. Dalam satu hubungan, kita tentu mencari referensi seorang pasangan untuk kita dengan bertanya atau meminta pendapat kepada orang lain, kadang bertengkar atau sempat terucap kata ‘putus’, lalu balikan lagi.

Timbul rasa bosan, kemudian bertemu dengan orang lain (rumput tetangga maksudnya)..mungkin buat nge-refresh or else (we have our reasons). Setelah sekian lama, secara sadar ataupun tidak, seringkali orang atau pasangan yang sudah terlalu lama bersama dengan kita, kehadirannya sama sekali tidak kita anggap penting dan berarti. Karena kualitas waktu dan begitu dalam mengetahui baik dan buruknya, maka kita mencari orang lain yang lebih dari pasangan atau kekasih kita. Sampai akhirnya, kita sadar kalau terus mencari yang paling dan ‘ter’…its not gonna end up to something called marriage.

Pentingnya Kesiapan Menikah Bagi Pria

Ada satu kata kunci yang bisa menjelaskan fenomena ini, yaitu kesiapan menikah. Laki-laki ternyata tidak cukup memerlukan hadirnya seseorang yang menjadi “the one” dalam dirinya, atau dirinya menjadi “the one” bagi seorang perempuan. Namun laki-laki memerlukan kesiapan yang memadai dalam dirinya untuk mengambil keputusan menikah.

Psikiater Alan Gratch, PhD pernah melakukan penelitian tentang faktor penting yang mendorong lelaki untuk berkomitmen lebih serius dalam menjalin hubungan dengan perempuan. Faktor penting itu adalah tentang kesiapan menikah.

Banyak perempuan berpikir bahwa lelaki pasti akan segera melamar jika dia sudah menemukan perempuan idaman yang paling cocok dengan harapannya. Perempuan juga berpikir bahwa lelaki pasti akan melamar jika dia memang benar-benar cinta. Tapi Alan Gratch berpendapat berbeda. Ternyata cinta dan kecocokan saja tidak cukup bagi lelaki untuk segera melamar dan menikahi kekasihnya.

Ada faktor yang sangat penting bagi laki-laki, yaitu kesiapan. Gratch yang selama 25 tahun meneliti dunia percintaan lelaki menemukan, sebanyak 49% lelaki menikah karena faktor telah menemukan “the one”, sedangkan 51% lelaki menikah karena faktor kesiapan.

Kecocokan itu memang penting bagi kaum lelaki, namun jika kesiapan dalam dirinya belum memadai, maka tidak ada yang dapat memaksanya untuk menikah,  Tetapi anehnya, lelaki akan mudah menemukan perempuan yang tepat di saat ia merasa telah siap untuk menikah. Tidak memerlukan waktu yang terlalu lama bagi laki-laki untuk segera menemukan jodohnya saat ia sudah merasa memiliki kesiapan menikah.

Jadi, tidak perduli seberapa intens interaksi dengan seorang perempuan, tidak peduli seberapa lama hubungan mereka bangun, tidak peduli seberapa kuat ikatan sudah mereka jalin, jika memang lelaki merasa belum siap menikah, ia tidak akan menikahi kekasihnya itu. Namun bila dia sudah siap menikah, tidak sulit baginya untuk menemukan perempuan yang dia anggap cocok, dan dalam waktu yang tidak lama ia memutuskan untuk menikah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>